Minggu, 02 Januari 2011

Transportasi


BUS TRANS JOGJA: SEBUAH SOLUSI MODA TRANSPORTASI MODERN

Sesuai dengan skedul yang telah disepakati, mulai bulan September 2007 telah mulai dibangun secara serentak beberapa shelter untuk mendukung launching Bus Trans-Jogja akhir tahun 2007 ini. Dalam peluncuran Bus Trans-Jogja ini akan dibangun kurang lebih 76 shelter dimana Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng pihak swasta untuk membangun 34 shelter yang berada seluruhnya berada diwilayah Kota Yogyakarta, sedangkan 42 shelter lainnya dibangun menggunakan dana APBD Propinsi DIY. Saat ini proses persiapan menyambut bus ini telah dilakukan dengan membangun halte diberbagai sudut Saat ini keberadaan angkutan publik yang ada sudah terlalu jenuh, disisi lain kondisi fisik kendaraan yang tidak lagi memadai serta faktor keamanan yang kurang terjaga, masyarakat menjadi enggan menggunakan fasilitas publik ini, sehingga load factornya hanya sekitar ± 27,22% saja, jika dibiarkan tentunya akan memperburuk citra Yogyakarta. Bus Trans-Jogja ini nantinya dilengkapi dengan fasilitas AC untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna jasa dan hanya akan berhenti dan berangkat dari shelter-shelter yang telah dibangun. Para pengguna jasa Selanjutnya reformasi angkutan publik ini diharapkan juga dapat merubah kesan Kota Yogyakarta khususnya dari sisi pariwisata, dan merubah mind-set masyarakat agar kembali menggunakan angkutan publik massal ini. Operasional Trans Jogja1.       Bus akan beroperasi mulai pukul 05.00 – 22.00 WIB 2.       Tarif untuk masyarakat umum Rp. 3.500 dan untuk pelajar/mahasiswa Rp. 2000,00 dengan sistem pembayaran elektronik (CardAcess) 3.       Pembayaran dapat digunakan untuk single trip atau berlangganan 4.       Bus berkapasitas 22 orang berdiri dan 19 orang berdiri serta menyediakan tempat untuk difabel 5.       Bus memiliki fasilitas AC 6.       Bus hanya akan berhenti di shelter – shelter yang tersedia dengan pintu otomatis Rute Rute 1A/1B : Candi Prambanan, S3 – Maguwo, Jl. Laksa Adisucipto, Jl. Sudirman, Jl. P. Mangkubumi, Malioboro, Jl. A. Yani, Jl. Trikora, Jl. Ibu Ruswo, Jl. Sultan Agung, Jl. Kusumanegara, JEC, Jl. Janti, Jl. Ringroad Janti,  Jl. Solo, Bandara Adisucipto, Candi Prambanan. Rute 2A/2B :Terminal Jombor, Jl. Magelang, Jl. Diponegoro, Jl. P. Mangkubumi, Maliboro, Jl. A. Yani, Jl. Trikora, Jl. Ibu Ruswo, Jl. Brigjend Katamso, Jl. Kol. Sugiyono, Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Ngeksigondo, Jl. Gedong Kuning, Jl. Kusumanegara, Jl. Cendana, Jl. Gayam, Jl. Sutomo, Jl. Yos Sudarso,  Jl. Wahidin,  Jl. Sudirman, Jl. Cik Di Tiro, Jl. Colombo, Jl. Gejayan, Jl. Ringroad Utara, Monumen Jogja Kembali, Terminal JomborRute 3A/3B :Bandara Adisucipto, S3 – Maguwo, Ringroad Utara, Terminal Condongcatur, Jl. Kaliurang, Jl. C. Simanjuntak, Jl. Sudirman, Jl. Diponegoro, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Pasar Kembang, Malioboro, A. Yani, Trikora, Alun-Alun Utara, Ngasem, Pojok Beteng Barat, Pojok Beteng Timur, Jl. Kol Sugiyono, Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Ngeksigondo, Jl. Gedongkuning, JEC, Jl. Janti, Ringroad Janti, Bandara (nug: dari berbgai sumber)

Saya memang bukan pengguna reguler moda transportasi semi ekslusif kota jogja ini tapi setidaknya, untuk beberapa kesempatan, saya pernah menggunakan jasanya. Sewaktu Trans Jogja diluncurkan lebih dari 2 tahun yang lalu, saya dan beberapa teman sering menggunakan moda ini untuk bepergian ke beberapa tempat. Paling sering ke kawasan malioboro (taman pintar, vredeburg) dan amplas. Letak halte yang dekat dengan tempat2 keramaian serta beroperasi sampai malam jadi pilihan tepat untuk pergi bersama teman. Selain tentunya karena waktu itu masih masa-masa promosi, sehingga tiketnya lebih murah dan kondisi armada masih bagus2.
Selasa (20 Juli 2010), saya harus mengambil sepeda yang sudah saya pesan 3 hari sebelumnya. Lokasi toko sepeda dengan nama toko “Tepat” itu berada di depan Jogjatronik. sekitar 100-an meter sebelah utara Purawisata. Saya sempat bingung bagaimana cara membawa pulang sepeda saya nanti. Minta tolong teman? ah merepotkan, pakai jasa angkut barang? sayang ongkosnya… akhirnya saya putuskan untuk menaikinya saja sampai rumah. Untuk keperluan itu pagi harinya saya harus menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke kampus (kantor). Ini juga pertama kalinya saya berangkat ke kampus (kantor) naik angkutan umum selama 6 tahun di Jogja.
Untuk menuju toko sepeda pada sore harinya saya pilih menggunakan jasa Trans Jogja. Saya tidak begitu mengerti dengan rute angkutan kota Jogja, dan seingat saya di depan Purawisata terdapat halte Trans Jogja… pas sekali. Jam 16.00 begitu keluar dari kampus saya langsung menuju halte di depan Swalayan Kopma. Begitu masuk saya sempatkan melihat poster rute yang ada disana. Ternyata rute jalur 3A yang dulu biasa saya pakai untuk pergi ke kawasan malioboro mengalami perubahan. Jalur ini masih melewati malioboro tapi sebelumnya harus memutari daerah Kridosono sebelum melewati Jl. Solo, diperpanjang.
Kondisi armada yang saya tumpangi sudah jauh berbeda dengan 2 tahun lalu. Banyak cat interior yang mengelupas, kursi pun tidak lagi nyaman. Dingin AC tidak lagi terlalu terasa karena penuhnya penumpang. Cara pengemudi membawa armada juga banyak berubah, dahulu para pengemudi seperti selalu berhati2 saat mengerem, kemarin beberapa penumpang kaget, hendak terjatuh setiap kali pengemudi mengerem.
Saya tidak tahu apakah ada aturan pengemudi boleh menelepon saat bekerja, sudah dua kali ini saya pergoki pengemudi Trans Jogja menggunakan telepon genanggamnya saat mengemudi. Dan itu bukan saat berhenti di lampu merah atau halte, saat armada dalam keadaan berjalan.
Trans Jogja rupanya sekarang sudah mulai populer di Jogja. Atau mungkin karena kebetulan jam padat, yang pasti saya jadi saksinya. Armada yang saya tempati penuh sesak dengan penumpang mulai dari daerah Gramedia, dan puncaknya di halte kawasan Malioboro. Penumpang terlihat menumpuk di halte sehingga terjadi desak-desakan penumpang setiap kali singgah di halte. Mungkin ini satu2nya perubahan yang positif dari Trans Jogja setelah lebih dari 2 tahun beroperasi (bagi pengelola tentunya).
Mungkin sekarang sudah saatnya pengelola Trans Jogja menambah armadanya. Atau malah sekalian menambah rute sehingga rute yang dilewati setiap jalur operasi tidak terlalu panjang. Yang pasti pengelola Trans Jogja harus memperhatikan tentang perawatan armada yang mereka miliki, kondisi halte dan tentu saja pengawasan serta evaluasi berkala pengemudi, asisten pengemudi dan para penjaga halte. Itu semua untuk kebaikan dan keberlangsungan Trans Jogja sendiri.
Kira-kira bagaimana kondisi moda ini 2 tahun kedepan ya …


1 komentar:

  1. jare kon komen...
    kie wis komen...
    kurang sing ndi maning????

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini